line

Article

Pelayanan Memberi Tempat

Saudara-saudari yang kekasih, memasuki bulan Desember ini mengingatkan kita akan hari Natal, hari dimana kita memperingati lahirnya Yesus Kristus ke dalam dunia. Untuk itu kita akan melihat apa yang terjadi di Natal pertama di saat Yesus lahir ke dunia. 

Lukas 2 : 7 “ dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. “ 

Pada Natal pertama satu masalah yang sedang dihadapi itulah masalah tempat. Di saat kelahiran Yesus ada sesuatu yg amat Tuhan butuhkan, hal yg paling dibutuhkan Tuhan saat adalah tempat. Tetapi saat itu tidak ada yang memberi tempat untuk Tuhan, padahal yang datang saat itu adalah Raja di atas segala Raja, bagaikan tamu kehormatan yang seharusnya diberikan tempat yang terhormat. Andaikata saat ini ada seorang tamu kehormatan yg masuk dalam ruangan ini saya yakin usher akan segera mempersilahkannya masuk dan akan segera memberi tempat bahkan mungkin tempat yg terhormat dalam ruangan ini. Namun sayang sekali di saat Yesus lahir, rumah penginapan sudah penuh. Rumah penginapan dalam Terjemahan Lama di sana disebutkan rumah persinggahan. Apa itu rumah persinggahan ? Itulah dunia, dunia ini hanya merupakan tempat persinggahan kita, rumah sementara, rumah kita yg sesungguhnya bukan di dunia. Kita hanya singgah sebentar saja di dunia ini, satu saat dunia dgn segala isinya akan lenyap, tapi sekalipun demikian Tuhan sangat mengasihi manusia, IA tidak mau kita binasa bersama dunia, itu sebabnya IA datang dan lahir ke dalam dunia dan yang kita sebut sebagai hari Natal, hari kelahiran Yesus. 

Di hari Natal Tuhan menuntut satu pelayanan dari kita, itulah pelayanan memberi tempat. Itu sebabnya Natal bukan hanya sekedar perayaan, Natal bukan hanya sekedar memberi persembahan puji-pujian dan tari-tarian tetapi lebih dari itu apakah kita mempersembahkan satu persembahan yang lebih dari itu, itulah pelayanan memberi tempat, dan ini merupakan renungan Natal bagi kita semua. 

Dalam Wahyu 3 : 20 dikatakan : “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” 

Tahukah saudara, kata yang paling menyedihkan di dunia ini adalah: “Kami tidak punya tempat bagiMu.” Yesus telah mengenal kata-kata itu ketika Ia masih dalam kandungan ibuNya, Maria, di saat pemilik rumah penginapan berkata: “Kami tidak memiliki tempat lagi bagi Anda.” 

Dan ketika Ia tergantung di kayu salib, bukankah itu juga merupakan pernyataan penolakan bagi Yesus ? Orang-orang yang menyalibkan Dia seakan-akan berkata : “Kami tidak memiliki tempat lagi bagiMu di dunia ini.” Bahkan sampai hari ini Yesus mendapat perlakuan yang sama, Ia pergi dari hati ke hati, dan bertanya kalau-kalau Ia boleh masuk dalam hati kita dan mendapatkan tempat. 

Ada sebuah illustrasi : Waktu itu Minggu pagi yang cerah. Orang-orang pergi memenuhi gereja dengan pakaian yang bagus-bagus. Ketika mereka masuk, mereka diberi sebuah buletin yang berisikan pengumuman, tema khotbah hari itu, dan nyanyian yang akan dinyanyikan dan siapa yang perlu didoakan. Pada ujung belakang deretan yang hendak masuk berdirilah seorang tua. Pakaiannya kumuh dan tampaknya sudah beberapa hari ia tidak mandi dan mencukur janggutnya. Ketika ia sampai ke depan pintu, ia melepas topinya dan memberi hormat pada usher. Rambutnya panjang, kotor dan kusut. Lalu usher itu berkata pada orang tua ini, “Maaf Pak Tua, tetapi Anda tak boleh masuk. Anda akan mengalihkan perhatian jemaat dan kami tidak menginginkan ada orang yang mengganggu kebaktian kami.” Orang tua itu memandangnya dengan wajah bertanya-tanya, ia memakai kembali topinya lalu ia meninggalkan gereja. Ia merasa sedih, karna ia ingin mendengar lagu-lagu pujian bagi Tuhan dan merasakan suasana ibadah dan hadirat Tuhan.Tetapi sayang sekali, ia tidak diizinkan masuk… 

Di dalam sakunya ada sebuah Alkitab yang sudah tua dan usang dan ingin sekali mendengarkan Firman Tuhan, ia ingin mendengar pendeta mengutip ayat-ayat yang telah banyak ia garis bawahi di Alkitabnya. Tetapi sayang sekali, ia tidak diizinkan masuk…. 

Lalu ia menundukkan kepala dan berjalan menuruni tangga gereja yang besar itu. Ia duduk di luar halaman gereja dengan harapan masih bisa mendengar lagu-lagu pujian kepada Tuhan melalui pintu yang telah ditutup itu. Ah, betapa inginnya ia berada di antara mereka. Betapa rindunya ia beribadah mencari wajah Tuhan. Beberapa menitpun berlalu ketika seorang muda datang dari belakang dan duduk di dekatnya. Lalu orang muda ini bertanya pada orang tua apa yang sedang ia lakukan. Orang tua itu menjawab, “Saya ingin sekali ke gereja hari ini mencari wajah Tuhan, tetapi saya kumuh dan pakaian saya telah tua. Mereka khawatir kalau saya mengganggu kebaktian mereka, saya tidak diizinkan masuk, itu sebabnya saya berusaha menikmati puji-pujian dan suasana ibadah dari luar.” Katanya dengan sedih. Lalu kedua orang itu berkenalan dan bersalaman. 

Lalu Pak tua berkata : nama saya Stefanus, dan ia melihat orang muda itu berambut panjang seperti dia, mengenakan jubah, dan memakai sandal yang telah berdebu dan kotor. Lalu orang muda itu menepukkan tangannya ke bahu Stefanus dan berkata, “ Stefanus, jangan merasa terhina karena mereka melarangmu masuk. NamaKu YESUS, Aku juga telah berusaha untuk masuk ke gereja ini selama bertahun-tahun, dan mereka tidak membolehkanKu masuk.” 

Apa yang bisa kita petik dari illustrasi ini ? Ada 2 hal : Pertama, tanpa kita sadari seringkali kita masih belum membuka hati memberi tempat bagi Yesus sekalipun kita sudah bertahun-tahun beribadah. Kedua, kita menghalangi orang lain untuk datang beribadah seperti yang dialami oleh Pak Tua Stefanus ini, kita belum membuka hati memberi tempat untuk jiwa-jiwa yang terhilang, hati kita tidak terbeban untuk jiwa-jiwa yang terhilang. Kita masih belum melakukan pelayanan ini, pelayanan memberi tempat. 

I. APA YG DIMAKSUD DENGAN PELAYANAN MEMBERI TEMPAT ? 

1. Membuka hati menyambut Yesus untuk sekali lagi lahir dalam hati kita sehingga hidup kita diubahkan. 

Contoh: Orang Majus. 

Orang majus ini memberi tempat bagi Tuhan. Buktinya orang majus mempersembahkan harta mereka. Kalau orang majus mempersembahkan harta mereka, berarti mereka itu telah mempersembahkan hati mereka. Sebab ada ayat yang mengatakan dimana hartamu berada di situ juga hatimu berada. Bahkan setelah mempersembahkan harta mereka, Matius 2 : 12b menuliskan mereka pulang melalui jalan lain, artinya mereka tidak kembali ke jalan hidup mereka yg lama, sebab mereka sudah diubahkan, kapan mereka diubahkan ? Saat mereka membuka hati memberi tempat bagi Yesus, saat itulah hidup mereka diubahkan. 

Kalau kita datang beribadah tapi hidup kita tidak pernah berubah itu berarti kita masih belum memberi tempat bagi Yesus di hati kita. Dalam Injil Lukas Yesus berkata orang Farisi pulang tidak sebagai orang yang dibenarkan, sebab meskipun mereka rajin beribadah tetapi mereka belum membuka hati untuk Tuhan. 

2. Membuka hati memberi tempat utk jiwa-jiwa yg masih belum mengenal Tuhan, dalam hati kita ada tempat untuk merasa terbeban akan jiwa-jiwa yg masih terhilang. 

Contoh : Para Gembala. 

Kalimat kedua yang disampaikan malaikat kepada gembala-gembala dalam Lukas 2:10 adalah, "aku menyampaikan kepadamu kesukaan besar bagi segala bangsa." Malaikat tidak menyatakan secara spesifik bahwa aku menyampaikan kepadamu kesukaan besar khusus "bagimu", tidak ! Melainkan bagi segala bangsa. Ini adalah visi Tuhan: menyelamatkan segala bangsa. Biarlah visi Tuhan juga menjadi visi kita semua. Di sini sesungguhnya perintah amanat agung untuk menyampaikan kesukaan besar bagi segenap mahluk telah dimulai. Dan ayat 18 menuliskan “ Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. “ 

Para gembala tidak menyimpan berita Natal untuk dirinya sendiri, tetapi mereka terbeban untuk menyampaikan kepada jiwa-jiwa yang belum mendengar kabar kesukaan besar tentang Yesus Juruselamat dunia. Apakah hati kita juga terbeban untuk menyampaikan berita keselamatan kepada orang-orang yang belum mengenal Yesus ? Apakah kita terpanggil untuk melaksanakan perintah Amanat Agung dari Tuhan ? Apakah kita terbeban untuk menjadi pewarta kabar baik bagi keluarga, saudara dan sesama kita ? 

3. Pelayanan memberi tempat adalah pelayanan yg disertai dengan pengorbanan. 

Contoh: Kehidupan domba. 

Kalau Yesus lahir di kandang domba itu berarti ada domba-domba yang memberikan kandangnya untuk Yesus dilahirkan di sana. Tidak mustahil saat itu sekelompok domba itu harus bersempit-sempitan, mungkin kandangnya sempit dan dengan hadirnya Maria & Yusuf serta bayi Yesus yang dilahirkan mereka akan lebih sempit lagi, ini berarti ada satu pengorbanan yang terjadi. Tidak hanya kandang tapi juga tempat makanan itulah palungan juga diberikan, Lukas 2 : 7 menuliskan bayi Yesus dibaringkan di dalam palungan. Domba-domba merelakan palungannya untuk Yesus. Padahal palungan adalah tempatnya makanan domba dan sekarang bayi Yesus sudah berada di dalamnya, apa yang akan mereka makan ? Bisa saja semua makanan yang biasanya diletakkan dalam palungan terpaksa dikeluarkan supaya bisa memberi tempat untuk Yesus, bisa jadi mereka tidak makan saat itu, satu pengorbanan lagi, pengorbanan dan pengorbanan. Kalau kita ingin memberikan pelayanan memberi tempat maka satu hal yang pasti terjadi !: pengorbanan ! 

Biarlah kehidupan kita bagaikan kehidupan domba yang bisa berkorban untuk gembalanya. Yesus adalah Gembala kita. Biasanya kita mendengar Gembala berkorban untuk domba-dombaNya tetapi satu saat Tuhan menuntut pelayanan memberi tempat dari domba-dombanya. Ini satu tantangan bagi kita. 

4. Pelayanan yg dilakukan tanpa melihat kekurangan orang lain atau pelayanan yang didorong oleh dengan kasih dan perhatian. 

Kalau saja sekelompok domba tadi melihat kekurangan Yesus saat itu, lahir sebagai Raja tapi koq ndak di istana, jangankan istana tempat aja ndak punya. Kalau saja saat itu mereka melihat kekurangan Yesus, maka dipastikan mereka tidak bisa memberikan kandang dan palungannya sebagai tempat bagi Yesus, dipastikan mereka tidak bisa melakukan pelayanan memberi tempat.Kita bisa melakukan pelayanan memberi tempat kalau kita tidak melihat kekurangan orang lain, sehingga kita bisa memperhatikan kebutuhan orang lain dengan penuh kasih dan perhatian. 

Yesus berkata dalam Matius 25 : 40….sesunggunya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. “. Dua ribu tahun yang lalu Yesus datang ke dunia tanpa memiliki apa-apa bahkan tempat untuk kelahiranNyapun tidak ada, namun sekelompok domba ini bisa memberikan tempat mereka. Kalau saja kita punya kasih dan perhatian untuk sesama manusia, maka kita juga bisa melakukan itu. 

Ada sebuah illustrasi : Adalah seorang tukang sepatu yang bernama Martin Avdeich, dia tinggal di satu apartemen bawah tanah dengan satu jendela kecil. Dari jendela itulah dia bisa melihat orang yang lalu lalang dari kakinya. Martin yang karena pekerjaannya sebagai tukang sepatu, tidaklah sulit buat dia mengenali orang yang lalu lalang itu dari sepatu yang dipakainya. Martin adalah pekerja keras, dia tidak pernah menipu pelanggannya, dia selalu menggunakan bahan terpilih untuk membuat sepatu, dia juga selalu tepat janji, pendek kata Martin selain pekerja keras juga pekerja yang baik. 
Martin pernah mengalami kekecewaan dengan Tuhan saat istri dan anak-anaknya meninggal, di tengah kekecewaannya dia pernah minta supaya Tuhan juga memanggilnya, karena dia sudah tidak melihat arti hidupnya ini. Di saat keadaan yang paling susah itulah dia bertemu orang yang mengingatkan kalau Tuhan sudah memberinya hidup, dan mengingatkan Martin bahwa hidupnya harus diberikan kepada Tuhan. Di tengah ketidak mengertiannya dan usahanya bagaimana caranya memberikan hidup untuk Tuhan, tiba-tiba dia bermimpi, mendengar suara Tuhan, "Martin ... Martin .. berjaga-jagalah Aku akan datang ke tempatmu esok". 

Besoknya Martin menanti-nanti. Kadang-kadang ia berpikir suara itu hanya mimpi, kadang-kadang ia meyakini ia benar-benar mendengar suara itu. Martin duduk di samping jendelanya sambil bekerja. Tiap kali dia menatap ke jalan menunggu Tuhan datang. Akhirnya dari jendelanya Martin melihat orang berpakaian usang, dengan sepatu penuh jahitan dan sebuah sekop di tangan. Dari sepatunya Martin tahu bahwa orang tua itu Stephanich, orang miskin yang menumpang di rumah orang lain dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil seperti membersihkan salju. Ia mulai membersihkan salju di depan jendela Martin. Martin mengamati Stephanich sampai Stepanich meletakkan sekop, dan kelihatan menggigil mencari tempat istirahat dan berlindung dari hawa dingin. Orang tua ini kelihatan sangat rapuh. Martin mengundangnya masuk. Stephanich begitu gemetar sampai hampir jatuh waktu masuk. "Masuklah ke dalam dan aku punya teh hangat," demikian seru Martin kepada Stepanich. Stepanich yang ragu-ragu masuk ke rumahnya bertanya apakah Martin sedang menunggu seseorang? Martin menjawab, "Saya sebenarnya malu untuk mengatakan pada anda bahwa memang saya sedang menunggu Tuhan, seperti yang saya pahami melalui Alkitab bahwa betapa betapa besar kasih Tuhan sampai Dia mau turun ke bumi". Begitulah Martin bukan hanya memberikan teh tetapi juga bagian makan siangnya yang sangat sederhana. Stephanich pamit dengan air mata di pipi karena rasa terimakasihnya yang dalam. 

Martin menunggu lagi. Berbagai orang lewat lalu lalang. Tuhan belum juga muncul. Sampai dilihatnya seorang wanita miskin dengan bayinya. Wanita ini hanya berpakaian musim panas, wanita ini tidak punya uang untuk menebus syal nya yang digadaikan. Martin bangkit dan memanggil wanita itu untuk masuk kerumahnya. Martin menyambut wanita dan bayinya ini. Memasak bubur untuk bayi itu dari persediaannya yang tipis dan memberikan uang kepada wanita itu supaya ia bisa menebus syal yang dia gadaikan untuk memberi makan bayinya. Ia juga memberikan satu-satunya mantel cadangannya yang juga sudah tua dan benangnya yang sudah menipis. Wanita miskin tersebut mengambil pemberian Martin dengan air mata yang berlinang. 

Martin, duduk lagi. Hari mulai sore. Dia makan sisa makanan yang masih tersedia, bekerja lagi. Tapi dia tetap berkali-kali memandang ke jalan. Menunggu dan menunggu datangnya Tuhan. Tidak lama seorang wanita tua penjual apel lewat. Punggungnya menggendong kayu bakar, dan tangannya menjinjing keranjang dagangan yang hanya berisi beberapa butir apel. Kayu bakarnya sangat berat sehingga ia berhenti, membetulkan gendongannya. Ia meletakkan keranjangnya di tanah. Tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil lari dan mengambil beberapa apel. Tapi nenek ini dengan cekatan menjambret baju anak itu. Nenek itu menarik rambut anak kecil itu dan berteriak akan membawa dia ke kantor polisi. Martin meminta-minta agar si nenek tidak membawa anak itu ke polisi. Martin akan membayar apelnya. Akhirnya nenek melepaskan pegangannya dan anak itu langsung melarikan diri. Martin menangkapnya dan berkata, "Mintalah maaf kepada nenek itu, dan saya tidak ingin melihat engkau mengambil apelnya lagi". Anak itu minta maaf. Malahan dia menawarkan diri mengangkat kayu bakar si nenek. Mereka berjalan berdampingan. 

Martin menunggu lagi. Hari mulai malam. "Tampaknya hari sudah gelap", pikir Martin. Dia membersihkan peralatannya. Menyalakan lampu. Mengambil Alkitabnya. Dan dia merenung menantikan Tuhan. Tetapi sudah malam., apakah Tuhan masih akan datang? Martin kembali merenung akan mimpinya yang mendengar suara Tuhan, kalau Dia akan datang kerumahnya... Tiba -tiba dia mengalami situasi yang sama dalam mimpinya, dia mendengar lagi suara yang berkata di telinganya "Martin ... Martin, apakah kamu tidak mengenal aku?" 
"Siapa?" tanya Martin , 
"Aku", jawab suara itu. Di tengah kegelapan malam Martin melalui kaca jendelanya samar-samar melihat Stephanich yang tersenyum. 
"Ini adalah Aku", terdengar ada suara itu lagi, dan Martin sama-samar melihat wanita tua dan bayinya dan lenyap. 
"Ini adalah Aku", terdengar suara lagi, dan Martin samar-samar melihat wanita tua dan apelnya bersama dengan anak laki-laki.

Melihat itu jiwa Martin gembira karena dia teringat apa yang tertulis di Alkitabnya, "Sebab pada waktu Aku lapar, kamu memberi Aku makan, dan pada waktu Aku haus, kamu memberi Aku minum. Ketika Aku seorang asing, kamu menerima Aku tumpangan. Ketika Aku tidak berpakaian, kamu memberi Aku pakaian. Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku. Ketika Aku dipenjarakan, kamu mengunjungi Aku." 

Impian Martin menjadi kenyataan, Tuhan memang sudah datang dan makan bersamanya hari itu. Martin akhirnya boleh mengerti, "Ketahuilah: waktu kamu melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kamu melakukannya untukKu." 

Jikalau 2000 tahun yang lalu Tuhan hadir ke dunia dalam bentuk bayi Yesus, saat ini Tuhan bisa hadir di antara kita melalui orang -orang di sekitar kita, bukalah pintu hati kita, sama seperti Martin Avdeich yang selalu menyambut hangat sesamanya. 
Itulah sebabnya milikilah kasih dan perhatian terhadap sesama, bukalah hati dan berikan tempat untuk jiwa-jiwa yang membutuhkan jamahan kasih Tuhan sehingga orang-orang di sekitar kita juga akan merasakan makna kasih Natal, sehingga merek bisa merasakan kasih Tuhan yang begitu besar. 

Saudara, 2000 tahun yang lalu Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan tubuhNya tetapi pada akhir zaman ini, Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalaNya ( Lukas 9 : 58 ). Itu sebabnya Yesus membutuhkan kita semua, untuk apa ? Untuk melakukan pelayanan memberi tempat. Sebab letaknya kepala itu ada di tubuh dan kita semua ada tubuh, tubuhNya Kristus. Yang namanya tubuh itu harus lengkap dengan anggota tubuhnya. Kalau cuman hidung saja, itu bukan tubuh, kalau cuman mata saja itu juga bukan tubuh, itu sebabnya kita saling membutuhka antara satu dengan yang lain. Apakah hidung bisa berkata kepada tubuh, ya udah saya mau hidup sendiri aja, atau mata berkata : sampai di sini saja, saya mau keluar dari team tubuh, ndak bisa. Oleh sebab itu, mari kita bersatu padu bekerja di ladang Tuhan mengerjakan visi Tuhan dan menggenapi kerinduan Tuhan untuk memberi tempat bagi Yesus sebagai Kepala gereja. Untuk itu satu hal yg amat kita butuhkan untuk memberi tempat bagi Yesus sebagai Kepala adalah : kesatuan.. 

Jadi, untuk mewujudkan kerinduan Tuhan sebagai Kepala gereja, ada dua hal yg harus kita perhatikan : 

1. Milikilah kesatuan. 
Sebagai anggota tubuh, kita merupakan satu kesatuan. Semua hrs dipersatukan dalam satu tubuh, kita ini adalah satu kesatuan. 

2. Hindari perselisihan. 
Sudah jelas kalau ada perselisihan maka sampai kapanpun kesatuan itu ndak bakalan terwujud, dan tanpa kesatuan tubuh Kristus maka Yesus sebagai Kepala tidak akan mendapatkan tempat 

II. BERKAT YG TUHAN SEDIAKAN BAGI ORANG YG MEMPERSEMBAHKAN PELAYANAN MEMBERI TEMPAT 

Bagi setiap kehidupan yg mempersembahkan pelayanan memberi tempat yakni, mau membuka pintu hatinya dan mengundang Yesus masuk, mau memberi tempat di hati untuk jiwa-jiwa yg terhilang, yg pelayanannya berani disertai dengan pengorbanan, yg tidak melihat kekurangan orang tetapi memberi perhatian dan kasih terhadap sesama, yang mau hidup dalam satu kesatuan, yang menghindari perselihan dan menciptakan kerukunan, MAKA bagi kehidupan yg demikian Yesus memberikan janjiNya yg terbesar di dalam Yohanes 14 : 2 “…Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. “ 

Kalau kita mengerjakan pelayanan memberi tempat maka Tuhan berjanji IA juga sedang menyediakan tempat bagi kita. Tuhan menyediakan tempat bagi orang-orang yg saat ini berani memberikan tempat untuk Dia. Kalau kita memberikan tempat bagi Dia di hati kita maka Dia akan menyediakan tempat bagi kita di rumahNya, amen ? 

 

Banyak Diakses

mengenai AirHidup

Menyediakan kebutuhan rohani dengan menggunakan sarana internet. Tujuan kami tidak lain adalah mendukung anak-anak Tuhan dimanapun mereka berada dalam pengenalan akan DIA.

Anda dapat menghubungi kami melalui link dibawah ini.

kontak form