line

Article

Tak Selamanya Langit Kan Selalu Biru

Telepon genggamku berdering dengan mengalunkan lagu "Bapa yang Kekal". Dan kulihat nomer penelpon pada kaca monitor. Eric yang menelpon menyatakan dia sudah siap untuk dijemput.

Kini aku bukan lagi menjemput Eric yang kukenal pada lima tahun yang lalu. Eric yang sekarang adalah beda. Dia bukan lagi pemuda tinggi gagah yang tampan, yang digandrungi oleh para cewek, dengan sedan BMW seri limanya. Eric sekarang adalah sahabatku yang spesial. Dan aku makin mengasihinya.

Aku hampir tak percaya ketika melihat Eric yang sekarang setelah kami berpisah selama lima tahun. Secara penampilan Eric tak berubah banyak. Tetapi jika seseorang mengenalnya lima tahun yang lalu dengan yang kini, dia dapat merasakan ada perbedaan dalam diri Eric. Aku menghampirinya dan bersalaman dengannya. Dandanannya masih selalu rapi dan bersih. Senyum simpulnya masih senantiasa tersungging dibibir seperti dulu.

"Halo Eric, masih mengenalku?" tanyaku membuka pembicaraan.

"Lupa." jawabnya lugu. Aku tersenyum.

"Aku yang menjemput kamu ke gereja Minggu lalu. Ingat kan?" Dia masih mencoba mengingat.

"Oh iya, ya." jawabnya dengan memandangku seksama.

"Yuk kita berangkat sekarang ya?" ajakku masuk ke mobil. Dan kamipun berangkat ke gereja.

Aku mengenal Eric lima tahun yang lalu dalam persekutuan pemuda gereja kami. Dan perkenalan kami hanya sebentar. Ketika itu Eric bersama Susana pacarnya. Pasangan muda mudi yang hampir sempurna. Sang pemuda lulusan universitas terkenal di Amerika, kaya, tampan, melanjutkan bisnis ayahnya dengan sukses dan seorang Kristen. Sang pemudi cantik, kaya, lulusan luar negeri dan melayani di gereja. Kurang apalagi? Layaknya jenjang pernikahan akan mereka lalui dengan mulus.

Manusia merencanakan, tetapi Tuhan jua yang menentukan. Dalam rangka perkunjungan ke pabriknya yang berada di pelosok daerah, mobil BMW yang ditumpangi Eric bertabrakan dengan truk pengangkut semen. Dalam kecelakaan tersebut mobil Eric terguling dan masuk jurang. Eric masih dapat diselamatkan tetapi dia harus diterbangkan ke rumah sakit luar negeri dalam keadaan koma. Selama tiga bulan Eric tidak sadarkan diri.

Meksi aku hanya mengenal Eric dengan tidak begitu dekat, tetapi hatiku terasa sedih dan terkejut ketika mendengar berita perihalnya. Pikiranku melayang seakan menyayangkan, mengapa harus terjadi pada pemuda yang baik yang seharusnya dapat menjadi alat bagi Tuhan tersebut?

Sembilan puluh hari Eric tidak sadarkan diri. Dan oleh karena kasih kemurahan Tuhan Yesus, pada hari kesembilan puluh satu, dokter menyatakan dia sadar. Semua anggota keluarganya menyatakan puji syukur atas kesadaran Eric. Tetapi kekecewaan kembali meliputi mereka. Ketika dokter memberi kabar buruk bahwa Eric mengalami gangguan pada otaknya. Otaknya hanya dapat berfungsi kira-kira empat puluh persen saja. Maka akibatnya dia lebih lamban berpikir dan sulit untuk mengingat. Bahkan lebih tragis, Eric hampir lupa semua masa lalunya. Dia tidak mengenal lagi Susana pacarnya. Dia lupa kalau dia pernah belajar di universitas yang terkenal di Amerika Utara. Dan dia harus banyak belajar untuk mengingat hal-hal disekitarnya.

Teman-temannya pun mulai berhamburan. Siapa yang ingin berteman dengan seorang pemuda tampan yang setengah idiot? Siapa yang ingin berteman dengan rekan bisnisnya yang mungkin sudah tidak mampu mengurus pabriknya? Siapa yang sudi berpacaran dengan seorang pemuda yang lupa bahwa dia adalah pacarnya? Siapa yang mau mengorbankan waktunya untuk mendampingi seorang pemuda yang tingkah lakunya kadang seperti anak berumur lima tahun? Hanya seorang suster yang ditugaskan untuk mengurus keperluan sehari-hari Eric. Menyedihkan sekali melihat kenyataan ini. Melihat Eric duduk didalam ruang kebaktian hanya berdampingan dengan suster pengasuhnya. Dan menerima pandangan kasihan dari tatap mata jemaat yang lain. Apakah ini kehendak Tuhan?

Seringkali kisah Eric membuatku termenung sendiri. Betapa besar anugerah Tuhan atas hidup manusia ini. Banyak orang mengatakan berbahagialah engkau tidak seperti Eric. mengucar syukurlah dalam segala hal. gunakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. layanilah Tuhan selagi engkau masih bisa. Dan masih banyak lagi komentar lainnya. Tuhan, apakah Engkau memakai Eric untuk tujuan itu ? Rasanya tidak adil.

Tetapi apakah Tuhan adil menjadikan langit tidak selalu biru bagi semua orang tanpa terkecuali? Ketika aku mengingat Eric, aku pun juga teringat betapa kerdilnya kita manusia ini dihadapan Tuhan. Yang menuntut keadilan kepada sang pencipta. Yang ingin memberontak untuk memenuhi harapannya. Aku pun juga semakin diingatkan untuk semakin tunduk dari ketinggian hati manusia, ketika kita masih hidup.

Uang dan materi bukanlah segalanya, ketampanan kecantikan juga bukanlah segalanya, pekerjaan yang baik atau kuasa bukanlah segalanya, kesenangan duniawi dan hawa nafsu pun bukanlah segalanya. Ketika Tuhan yang berdaulat mengambil semua itu dari hidup kita, kita tidak mempunyai apa-apa. Hanya Tuhan sajalah yang menentukan hidup kita, karena hidup kita tidak dapat lepas dari Tuhan.

Aku pun tak mengerti apa maksud Tuhan dari peristiwa yang menimpa Eric. Tetapi yang kutahu bahwa Tuhan masih mengasihi Eric, Dia bekerja melalui hidup Eric dan kiranya makin banyak orang yang merenung dan mendekatkan diri kepada Tuhan dari kisah hidup Eric. Aku bersyukur jika aku dapat mengasihi Eric sebagai temanku dan menemani berjalan bersamanya untuk mengasihi Tuhan serta berpengharapan dalam hidup ini.

 

mengenai AirHidup

Menyediakan kebutuhan rohani dengan menggunakan sarana internet. Tujuan kami tidak lain adalah mendukung anak-anak Tuhan dimanapun mereka berada dalam pengenalan akan DIA.

Anda dapat menghubungi kami melalui link dibawah ini.

kontak form