line

Article

Traveling

Saya sangat menyukai traveling. Sampai sekarang ini sudah beberapa kali saya pergi ke luar kota dan ke luar negeri. Terakhir saya pergi ke Bandung dan menginap selama 2 malam. Terus terang kemarin setelah balik dari Bandung, sempat mikir ( cukup lama ) kenapa ya kok saya suka traveling. Padahal saya ngga terlalu suka beres-beres koper dan menyiapkan barang-barang apa saja yang akan dibawa. Hal ini juga agak mengherankan buat saya karena saya ini kan perempuan kok bisa ngga suka beres-beres hehehe… 

Terus terang nih kadang masih sulit buat saya untuk menentukan barang apa saja yang perlu untuk dibawa dan pasti digunakan di dalam perjalanan nanti. Saya sering membawa barang yang sebenarnya ngga perlu dan ngga akan digunakan. Tapi entah kenapa…susah untuk merubah kebiasaan itu. Setiap pulang dari perjalanan saya sering berjanji untuk lebih tahu apa aja yang perlu dibawa sehingga ngga keberatan membawa beban ( yang memang ngga diperlukan ). 

Setelah cukup lama saya pikirkan kenapa saya menyukai traveling akhirnya saya sampai pada kesimpulan karena ternyata setiap mau berangkat ke tempat tujuan hal ini mengingatkan saya akan satu hal. Ayo...coba tebak, ada yang tahu ngga ? J Yang tahu pasti karena sudah pernah ngerasain juga. Yup, benar…hal ini mengingatkan saya bahwa dunia ini, bumi yang saya diami sekarang, bukan tempat tinggal saya untuk selama-lamanya. 

Sebagai orang percaya kepada Tuhan Yesus, pasti sudah pernah baca ayat firman Tuhan dari Filipi 3 : 20a, “ Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga,…” Ayat yang luar biasa bukan ? coba deh renungkan, kita ini warga negara sorga. Tapi entah mengapa kita sering ngga merasa sebagai warga negara sorga. Ketika menghadapi persoalan yang datang dalam hidup, kita mudah patah semangat dan kehilangan kekuatan bukan ? Kita suka sekali melihat kesulitan sampai hati menjadi sedih dan akhirnya ngga punya kekuatan untuk berjalan maju. Bener ngga ? (maksud saya bukan ngga boleh sedih lho tapi jangan larut dalam kesedihan). 

Kalau kita adalah warga kerajaan sorga maka ngapain donk kita di dunia ? Well, yang pasti ngga cuma untuk menuh-menuhin bumi hehehe…Menurut Rick Warren dari bukunya yang pernah saya baca Purpose Driven Life, tujuan hidup ( the purpose of life ) adalah (in a nutshell, life is a preparation for eternity ) mempersipkan diri untuk kekekalan. We were made by God and for God. Life is a series of problems. Tujuannya adalah untuk membentuk karakter kita. Tuhan lebih tertarik untuk membuat hidup kita kudus dari pada nyaman. The goal is to grow in character, in Christ likeness. 

Hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan. Layaknya seseorang yang sedang dalam perjalanan kita perlu tuntunan (guidance) dari orang yang tahu benar daerah yang dijalani. Makanya kalau kita pergi pake tour, ada tour guide-nya kan ? Sebagai warga negara kerajaan sorga kita juga memiliki penuntun, yaitu Allah sendiri (= firmanNya, baca Yoh 1:14 dan Yoh 17:17 ) dan keseluruhan firmanNya tersebut ada di dalam buku (yang kalau mau jujur nih…mungkin jarang kita baca kali J ) yang bernama alkitab. Saya jadi ingat Pak Jeffrey Rachmat pernah bilang bahwa manual book-nya orang Kristen adalah alkitab. Kalau manual book berarti harus dibaca donk supaya bisa menjalani kehidupan ini dengan benar sesuai keinginan penciptanya. Setuju ? J 

Dalam injil Yohanes 14:16,26 ( bacalah NIV dan The Message) dituliskan bahwa kita akan diberi seorang penolong yang lain ( yang akan selalu bersama dengan kita ) untuk mengajar dan mengingatkan semua yang Tuhan Yesus pernah katakan ( kepada kita yang baca alkitab. Maaf ya… kalau ngga pernah baca ya ngga akan tahu, makanya baca donk J). 

Melegakan bukan mengetahui bahwa sebagai perantau/pendatang kita ini ngga dilepas begitu saja di bumi ini ? Saking sayangnya Tuhan sama manusia, DIA membekali kita dengan hal yang benar-benar penting untuk digunakan di dalam perjalanan (kehidupan) ini. Kalau saya masih suka salah membawa barang yang diperlukan untuk traveling tidak demikian dengan Bapa yang menciptakan saya. DIA tahu dengan pasti apa yang saya perlukan di dalam melakukan perjalanan di bumi ini. 

Jika kehidupan adalah sebuah perjalanan maka menetap di bumi hanyalah sementara. Tanpa kita sadari, seringkali kita berpikir bahwa hidup kita ya hanya di bumi ini saja. Makanya harus dibikin enak dan nyaman, ya… senyaman-nyamannya… kalau bisa tanpa peduli dengan orang lain atau lingkungan. Makanya ngga heran, setiap orang pengen punya banyak uang supaya bisa hidup enak. Uang menjadi tujuan utama manusia. 

Kemarin saya baca di kompas dituliskan bahwa orang Jepang sangat mendewakan uang. Hanya orang yang punya uanglah yang akan dipandang orang lain. Pengemis tidak punya tempat sama sekali di Jepang. Bahkan ditulis juga tentang seorang pengemis yang meninggal di kota Tokyo karena kelaparan. Tidak ada seorangpun yang memberinya uang. Mengerikan dan menyedihkan bukan ? Itu baru di Jepang, coba lihat dengan yang terjadi di negeri kita sendiri. Bukankah negeri ini terkenal sebagai salah satu negeri terkorup dalam daftar negara-negara yang korupsinya ngga kira-kira ? 

Kita yang sudah tahu kalau hidup adalah sebuah perjalanan lantas mengapa seringkali mengasihi dunia dan segala isinya ? Mengapa kita lebih senang menyimpan dan menumpuk untuk diri sendiri ( harta, uang, kekuasaan, kasih, pengampunan) dari pada membagikannya kepada orang lain ? Firman Tuhan bilang barangsiapa mengasihi dunia maka di dalam dia tidak ada kasih Bapa. Barangsiapa mengasihi, ia mengenal Aku karena AKU adalah kasih. Makanya kita perlu membaca dan mengenal firman Tuhan agar kita tetap tinggal dalam kerajaanNya. Kerajaan Allah berbicara mengenai kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus ( Roma 14:17-18 ). Kerajaan Allah sesungguhnya ada di dalam hati kita dan kalau Kita tahu bahwa kita ini adalah warga kerajaanNya, maka biarkan Tuhan Yesus memerintah dalam kehidupan sehari-hari. 

Jangan ragu untuk menikmati perjalanan hidup di bumi ini. Toh kita ngga pernah sendirian. DIA selalu menyertai kita. Kesedihan, kesulitan, kegagalan, dan persoalan dalam hidup hanyalah sementara sama halnya dengan hidup di bumi ini. Persis seperti perjalanan saya ke Bandung akhir bulan lalu, pada akhirnya saya harus kembali juga ke Jakarta, kota tempat tinggal saya. 

Sekarang saya tahu kenapa saya suka traveling karena memang perjalanan itu menyenangkan. Perjalanan mengingatkan siapa saya, dari mana saya berasal dan kemana pasti nanti saya kembali. Saya ini hanya pendatang di bumi . Sekali waktu entah kapan saya akan kembali ke rumah Bapa di sorga, bersama denganNya kembali untuk selama-lamanya. 

Satu lagu yang ditulis oleh Jonathan Prawira membuat saya merenungkan siapa saya sesungguhnya di dalam Tuhan : 

Hati Sebagai Hamba 
Ku tak membawa apapun juga 
Saat ku datang ke dunia 
Ku tinggal semua pada akhirnya 
Saat ku kembali ke surga 

Reff: 

Inilah yang kupunya hati sebagai hamba 
Yang mau taat dan setia padaMu Bapa 
Kemana pun kubawa hati yang menyembah 
Dalam roh dan kebenaran sampai selamanya

 

info Terbaru

mengenai AirHidup

Menyediakan kebutuhan rohani dengan menggunakan sarana internet. Tujuan kami tidak lain adalah mendukung anak-anak Tuhan dimanapun mereka berada dalam pengenalan akan DIA.

Anda dapat menghubungi kami melalui link dibawah ini.

kontak form