Lepaskan dan Dapatkan

Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.
Istri Lot menoleh ke belakang, karena dia merasa sayang dengan segala sesuatu yang mereka tinggalkan, karena tanah Sodom dan Gomorah, tanah yang begitu indah (Kej 12:10) dan dia mendapatkan upahnya menjadi tiang garam.
Keterikatan kita terhadap apa yang kita miliki didalam dunia ini dapat menjadi boomerang terhadap hubungan kita dengan Tuhan, seolah2 kita tidak dapat hidup jika kita tidak memiliki atau mendapatkannya sehinga kita menjadi khawatir, takut dan kita mulai membayangkan hal-hal yang menurut pikiran kita bisa terjadi atau memikirkan segala cara untuk mendapatkannya. Inilah pekerjaan Iblis yang membisikan kata didalam hati kita yang membuat diri kita terjatuh jika kita terus menanggapinya, Iblis adalah pendakwa dia siap mendakwa kita siang dan malam (Why 12:10), dia mencuri damai sejahtera dan suka cita yang ada didalam diri kita. Dan inilah tandanya jika didalam hati kita tidak ada damai sejahtera dan sukacita, berarti bahwa kita sudah mulai dimasuki oleh kuasa kegelapan dan pada saat itu kita harus datang kepada Tuhan didalam doa.
Sikap kita yang terus menanggapi kekhawatiran dan ketakutan itu dikarenakan kita tidak mempercayai karya Tuhan didalam hidup kita, iblis selalu berusaha menggagalkan rencana Tuhan didalam diri kita yaitu dengan memperlihatkan segala sesuatu yang berasal dari dosa adalah manis rasanya sehingga kita masuk kedalamnya karena dia adalah bapa pendusta (Yoh 8:44). Oleh karena itu dalam segala perkara ucapkan syukur, puji-pujian, doa didalam roh dan kebenaran, itulah yang dikehendaki Tuhan, sehingga kuasa kegelapan tidak menguasai kita, namun kita dibuat semakin peka terhadap dosa-dosa kita. 
Kita dapat melihat perilaku Ayub yang mengucapkan syukur atas segala sesuatu yang terjadi didalam hidupnya, walaupun keadaanya berbalik 180 derajat dari yang memiliki menjadi tidak memiliki apapun namun Ayub tetap memuji Tuhan (Ayub 1:20-21).
Jadi jika Ayub melepaskan segala yang ia miliki dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan sehingga dia tetap mengucapkan syukur atas malapetaka yang menimpa dirinya dan keluarganya. Apakah kita sudah mengucapkan syukur pada saat kita mendapatkan sesuatu berkat kelimpahan dari Tuhan? Atau kita pikir bahwa semua itu datang secara otomatis, atau kita pikir semua itu karena usaha dan kerja kita?
Kita boleh bekerja sekuat tenaga, kita boleh bekerja keras banting tulang namun jika Tuhan tidak menghendaki maka semuanya akan berujung pada kehampaan, tidak ada damai sejahtera didalam diri kita.
Kelepasan didalam ketaatan dapat kita liat dari diri Abraham. Abraham yang dengan setia menantikan apa yang dijanjikan Tuhan bahwa ia akan memiliki anak. Tuhan sudah berikan pada saat ia berumur seratus tahun (Kej 21:5). Tapi pada satu saat Tuhan meminta Ishak untuk dikorbankan (Kej 22:1-12). Kita bisa bayangkan betapa sayangnya kita kepada anak kita, apalagi Abraham yang dimasa tuanya dia dapatkan anak itu, namun Tuhan memintanya untuk dikorbankan. Tapi Abraham taat dan memberikannya untuk menjadi korban bakaran bagi Tuhan, dia lepaskan segala ikatan karena Abraham percaya Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan walaupun dalam perjalanannya kita rasakan pahit dan tidak dapat kita mengerti dengan akal dan pikiran kita. Namun dari iman itulah Tuhan berkenan memenuhi segala janji-janjinya.
Abraham mengasihi Allahnya lebih dari segalanya yang ia miliki, bahkan anaknya sendiri yang sudah ia nanti-nantikan berpuluh-puluh tahun. Pada saat ia melepaskan segala ikatan hanya bagi Allah, justru Allah memberikan segala-galanya bagi Abraham dan menikmati segala janji-janji Tuhan (Kej 22:15-18). Begitupun pada Ayub, dia kehilangan segala-galanya namun Ayub tetap setia dengan mengatakan kebenaran Tuhan, dihadapan teman-temannya yang mencela Ayub dan dihadapan Tuhan, sehingga ia mendapatkan kembali segala kepunyaannya dahulu bahkan berlipat ganda (Ayub 42:7 & 10).
Sering kali didalam hidup kita orang-orang disekitar kita membuat kita menjauh dari Tuhan. Mulai dari obrolan, gossip yang akan membawa kita menjadi “hakim-hakim”, dan apa yang kita mau itu yang kita kejar, sementara kita menerima berkat kita lupa bahwa semua itu adalah karya camputangan Tuhan didalam hodup kita, kita terbawa arus dunia seperti istri Lot, tidak ada sukacita, damai sejahtera, tapi kita mengejar apa yang kita mau, kita mempertahankan apa yang menurut kita berharga dan tidak menyerahkan seutuhnya pada karya Roh kudus yaitu penolong bagi kita (Yoh 14:16-17). Hal ini kerapkali tidak kita sadari sehingga kita akan terus berusaha dengan kekuatan kita yang terbatas dan pada suatu titik kita tidak akan lagi mampu untuk melakukannya. Inilah sumber keputusasaan, kekhawatiran, ketakutan, gelisah, gentar karena kita tidak menanggapi karya Roh Kebenaran didalam diri kita. Kita harus menanggapi karya Roh Kudus didalam hidup kita yaitu dengan melepaskan segala keinginan kita dan membiarkan diri kita dikuasai dan dipimpinNYA, sehingga kita dapat menikmati segala janji Tuhan dan DIA tidak akan pernah mengingkarinya selama kita taat kepada firmanNYA dan menghidupinya.
Damai sejahtera dan suka cita dari Kristus Tuhan selalu menyertai kita sekalian! AMIN.

No Comments Yet

Comments are closed

X