Tuhan itu ramah

Lalu kepada malaikat, yang berbicara dengan aku itu, TUHAN menjawab dengan kata-kata yang ramah dan yang menghiburkan. Zakharia 1:13
Saya masih teringat 2 minggu yang lalu, 13 November tepatnya. Ketika saya datang ke Kalimantan untuk yang pertama kalinya setelah 11 tahun tidak pernah kesana untuk mendoakan kakek saya yang sedang berbaring sakit. Beberapa kali saya memegang telapak tangannya yang sudah keriput dan kering.
Tampak matanya sudah tertutup oleh kelopak mata. Sepertinya tidak bisa melihat lagi. Kakinya pun kurus dan lumpuh. Dalam keadaan yang seperti itu, saya hanya ingat pesan dari hamba Tuhan yang mengajari saya untuk berkata kepada kakek saya dengan kata kata yang menghibur.
Sebelum saya ucapkan perkataan yang menghibur, terlebih dahulu saya mendoakan beliau, membimbing dia dalam doa, dan puji Tuhan kakek saya mau. Setelah itu …
“ kong …. ( baca : kakek ) .. Tuhan Yesus sayang sama akong ….. akong senang tidak ? ”
“ senang “ jawabnya
Saat seperti itu, saya ucapkan perkataan ini terus menerus berkali kali sambil memegang tangannya. Heran nya, saya bisa melihat bagaimana beliau begitu tenang, seperti ada rasa aman yang beliau rasakan. Berbeda jika saya melepaskan gengaman tangannya. Justru beliau akan gelisah dan akan memanggil nama saya.
Ternyata hal ini sangat terbukti. Jika kita melepaskan perkataan yang ramah dan menghibur, seringkali tanpa kita sadari, atmosfir ilahi mulai bekerja menaungi keadaan sekeliling kita.
Ada berapa banyak kesempatan yang kita miliki untuk berbagi perkataan seperti itu ? walaupun di tempat kita bekerja, perkataan keluh kesah, rasa dongkol dan jengkel menguasai kita, tapi saya yakin, setidaknya kita bisa menyisihkan waktu minimal beberapa menit untuk mengucapkan kata kata yang ramah untuk mereka yang membutuhkan perhatian.
Ketika kakek saya menghembuskan nafas yang terakhir pada sore harinya, saya hanya bersyukur kepada Tuhan. Karena 1 jiwa sudah diselamatkan. Singkat cerita, anak anak kakek saya mulai berdatangan ke Kalimantan. Mereka menangis meratapi kepergian kakek.
Pada saat anaknya yang paling bungsu datang ke Kalimantan, saya menceritakan kepadanya bagaimana beliau mau menerima Yesus sebagai Tuhan. Dan ketika saya menceritakan bagian dimana saya berkata “ kong, Tuhan Yesus sayang sama akong, akong senang tidak ? “
Airmata tidak bisa dibendung lagi. Anaknya yang bungsu menangis terharu …
Bukankah Tuhan kita Allah yang baik ? bukan hanya berkuasa, tapi Dia juga yang menghibur kita, takala kita membutuhkan-Nya. Puji Tuhan …

No Comments Yet

Comments are closed

X