Topics
Deeper Journey
Reading Time
2 minutes
Share this article

Kesempatan

reading time: 2 minutes
Suatu ketika ada seorang guru yang ingin menguji muridnya. Dibawanya si murid ke dalam […]

Suatu ketika ada seorang guru yang ingin menguji muridnya. Dibawanya si murid ke dalam hutan. Beliau berpesan kepada muridnya, Aku ingin kamu masuk berjalan melalui hutan ini. Sementara itu aku akan menunggu kamu di sisi hutan sebelah sana. Aku ingin kamu menebang pohon yang paling besar yang ada di hutan ini dan membawanya padaku nanti.

Tak lama, si murid masuk ke dalam hutan, berjalan sambil mencari pohon yang paling besar. Setelah dia menemukan pohon itu, dia menebangnya dan melanjutkan perjalanan. Beberapa ratus meter kemudian dia melihat pohon yang lebih besar dari yang dibawanya tadi. Dengan segera dia menebang pohon yang lebih besar itu dan membawanya.

Beberapa ratus meter kemudian, tak disangka dia menemukan pohon yang lebih besar lagi dibanding pohon kedua yang ditebangnya tadi. Dengan kesal dia meninggalkan pohon yang tadi ditebangnya. Dan saat ini dia tidak membawa apa-apa. Pikirnya, Ah kalaupun aku tebang pohon yang ketiga ini nanti di depan sana toh ada pohon yang lebih besar lagi.

Dia berjalan melanjutkan perjalanan menyusuri hutan dengan tangan hampa. Beberapa kali dia melihat pohon besar, namun dia enggan untuk menebang & membawanya, karena dia menyangka pasti ada yang lebih besar lagi di depan sana. Beberapa jam perjalanan, dia sampai ke tepi hutan. Dia telah melihat gurunya menanti disana, namun dia tidak membawa pohon yang paling besar yang dipesankan gurunya. Si murid sangat menyesal.

Kadang kita bertingkah seperti si murid. Kesempatan datang berkali-kali, namun kita enggan menerimanya karena pikir kita akan ada kesempatan yang jauh lebih baik di depan sana. Namun ketika kita tidak juga mengambil salah satu kesempatan itu, batas akhir telah menanti, dan akhirnya hanya penyesalan yang timbul. Kita harus bijak dalam merespon kesempatan. Memang tidak semua kesempatan harus kita ambil, tapi juga tidak semua kesempatan kita buang begitu saja.

Menjadi orang berhikmat adalah kuncinya. Hikmat lebih berharga dari semua, itulah mengapa Salomo lebih memilih menjadi orang berhikmat daripada menjadi orang kaya, orang terkenal, orang pintar. Dan kunci dari hikmat adalah TAKUT AKAN ALLAH. Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. (Amsal 9:10)

Topics
Deeper Journey
Deeper Journey, Faith
Kuasa Doa Fajar
TB Mazmur 5:4: Tuhan, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku […]
Deeper Journey, Faith, Life
Kontes Orang Benar
Adakah orang benar di muka bumi ini menurut anda? Apa ciri-ciri orang benar? Bagaimana […]
Deeper Journey, Faith, Life
Kristus Kekasih Jiwaku
Seorang dokter berlari terburu-buru memasuki rumah sakit karena ada panggilan operasi darurat. Dia menjawab […]