Gereja Yang Mati

Sungguh, baik Nabi maupun Imam berlaku fasik, dirumah Ku pun juga Aku mendapati kejahatan mereka, demikianlah firman Tuhan.

Yeremia 23:11

Pada tahun 1992, Pdt.David Wilkerson meminta orang-orang kristen di Amerika Serikat dan Kanada untuk menulis surat dan menceritakan keadaan gereja mereka. Responnya sungguh luar biasa, karena ribuan orang kristen menanggapi dan mengirimkan surat kepada hamba Tuhan ini. Satu dari enam surat umumnya berkata, segala sesuatu berjalan dengan baik digereja kami. Pendeta kami sungguh-sungguh orang yang setia dan tidak takut dalam memberitakan kebenaran.

Gereja kami bertumbuh penyembahan begitu indah, kami tidak sabar menunggu untuk beribadah pada kebaktian berikutnya. Tetapi yang mengejutkan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kristen yang terluka secara rohani. Mereka menulis surat dan menceritakan tentang gereja mereka yang mati. Biasanya mereka menulis dengan kata-kata, kami mengasihi pendeta kami namun… Mereka melanjutkan … gereja kami menjemukan. Banyak orang mengantuk dan tertidur selama pendeta berkhotbah. Pendeta kami takut menegur jemaatnya, dan ia selalu berkhotbah hal-hal yang baik saja. Kami menjadi mati secara rohani dan kami menemukan gereja yang lebih baik. Sebaliknya para gembala sidang mengeluh, kami membutuhkan dorongan, jemaat kami ingin mendengarkan kebenaran dan katanya mereka mau dikoreksi. Tetapi bila Roh Kudus sedang bekerja dan saya mengoreksi mereka, mereka lantas ngambek. Gereja sedang berjalan menuju liang lahat, bila gembala sidang masih berkompromi dengan dosa dan tidak memberitakan firman Tuhan yang murni. Gereja sedang sekarat bila jemaatnya adalah orang percaya yang masih dikuasai hidup yang lama. Bila dua hal ini digabungkan , inilah yang disebut gereja mati.

Apalagi bila gereja tersebut tergantung dengan orang-orang kaya, sehingga pada saat orang tsb melakukan kesalahan yang fatal, gereja tidak berani bertindak, karena imannya bergantung pada orang kaya tsb, takut kalau ditegur jemaat kaya tsb pindah gereja, akhirinya tidak ada perpuluhan dan sumbangan terbesar hilang begitu saja. Pada zaman Nabi Yeremia hal ini juga terjadi, para Imam, Nabi dan jemaat tidak lagi hidup dalam kebenaran. Tidak ada teguran, tidak ada hardikkan, tidak ada kebenaran yang diberitakan, tidak ada lagi yang berlaku setia diantara anak-anak Israel.

Anehnya dalam zaman yang membara dengan api Roh Kudus ini, masih banyak ditemukan gereja yang sekarat. Pendetanya seperti robot yang disetir oleh jemaatnya yang kaya, pendetanya takut berkhotbah yang keras-keras sebab jemaatnya tidak mau ditegur, dan kalau ditegur, ngambeknya nggak sembuh-sembuh. Kalau anda memiliki pendeta yang keras dalam arti memberitakan firman Tuhan dengan murni dan berani menegur dengan kasih bersyukurlah, karena ada yang meluruskan anda. Jangan malah marah, kalau anda marah sama artinya dengan anda memintanya supaya tidak memberitakan firman dengan murni. Atau anda cuma meminta pendeta anda berkhotbah yang aman bagi diri anda saja, tidak mengungkit masalah benar atau tidak dimata Tuhan.

No Comments Yet

Comments are closed

X