Keluar dari Ruang Kenyamanan

Kita akan belajar dari seorang tokoh Israel yang sangat besar berkaitan dengan renungan kali ini. Tokoh tersebut bernama Musa, siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini? Tokoh yang sangat besar!! Namanya disebut cukup banyak di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kalau kita pergi ke Israel dan kita tanya kepada masyarakat di sana, tolong sebutkan 10 tokoh besar yang pernah ada di negara itu. Salah satu jawabannya pastilah MUSA.

Ulangan 34 : 5 & 6, disana dikatakan bahwa kuburan Musa tidak diketahui orang tempatnya, beberapa penafsir Alkitab berkata bila sampai kuburan itu diketahui tempatnya, mungkin saja kuburan tersebut bisa menjadi berhala. Ini menunjukkan betapa besarnya tokoh Alkitab yang satu ini. Di bagian lain dari kitab Ulangan 34 : 10-12, digambarkan sisi lain yang menunjukkan bahwa tokoh ini adalah tokoh besar.

Bila kita melihat di Perjanjian Baru, kitab Ibrani pasal 3 : 1-6. Kita tidak akan baca bagian ini, tapi kalo teman-teman nanti baca di rumah, aku berpikir ayat ini disampaikan oleh pengarang kitab Ibrani untuk menegaskan bahwa Yesus jauh lebih besar dari Musa. Bagaimana ini bisa muncul? Karena memang Musa adalah tokoh yang besar. Pada saat kondisi dimana Kristus dikatakan lebih tinggi daripada Musa, ingin mempertegas status keberadaan Yesus sebagai Tuhan yang lebih tinggi dari ciptaan, yang juga menggambarkan bagaimana kondisi pada saat itu melihat Musa sebagai tokoh yang besar.

Pertanyaannya benarkah Musa dilahirkan sebagai tokoh yang besar? Musa adalah manusia biasa, sama seperti kita, yang membuat Musa menjadi besar, karena Tuhan yang Besar yang memakai Musa. Tuhan yang besar itulah yang membuat Musa menjadi tokoh yang besar.
Tema renungan kali ini sangat berkaitan dengan kehidupan Musa, kita ingin melihat mengapa Tuhan yang besar itu mau memakai Musa, dan menjadikan Musa menjadi tokoh yang besar. Tapi sebelum kita melihat hal itu, saya ajak kita untuk melihat biografi singkat dari kehidupan Anak Tuhan yang bernama Musa ini.

Kita baca dari Keluaran 1 : 6-10. Saat itu sekitar tahun 1800-an sampai 1500-an SM. Digambarkan bagaimana penggenapan janji Tuhan kepada Abraham untuk membuat keturunannya menjadi besar seperti banyaknya bintang di langit dan pasir di pantai sudah mulai tergenapi. Hal ini membuat takut raja Mesir, bila teman-teman baca lagi dari ayat 11-14, raja menyuruh untuk menyiksa dan menindas rakyat Israel semakin parah dengan kerja paksa, tapi Tuhan kita memang luar biasa. Semakin ditindas, semakin besarlah bangsa itu.

Pengalaman membuktikan, semakin anak-anak Tuhan ditindas dan ditekan, maka semakin tumbuh dan berkembanglah jadinya. Lihat contohnya di Cina, di Indonesia, dan bahkan jaman dulu pun bangsa Israel pernah mengalami hal yang sama. Semakin anak-anak Tuhan ditindas dan ditekan semakin berkembang dan bertambah banyaklah jumlahnya. Melihat hal tersebut, raja Mesir bertambah takut, maka disuruhlah bidan-bidan Mesir untuk membunuh bayi laki-laki orang Israel, tapi Tuhan pakai bidan itu dengan luar biasa. Tidak ada satu pun bayi yang dibunuh oleh bidan-bidan Mesir, karena mereka takut akan Tuhannya Israel. Akhirnya keluarlah keputusan oleh raja Mesir kepada seluruh rakyatnya untuk membuang semua anak laki-laki yang lahir dari orang Ibrani ke sungai Nil.

Musa dilahirkan dalam masa tersebut, dia dilahirkan ± 1526 SM. Pada masa itu, orang tua Musa hanya sanggup merawat Musa selama 3 bulan, setelah itu keadaan menjadi tidak terkendali, sehingga memaksa Ibunya Musa untuk “menyerahkan” putranya itu kepada putri Firaun, saat sang putri sedang mandi di sungai Nil. Namun dengan alasan bayi itu perlu diberikan ASI, maka bayi tersebut di ”kembalikan” kepada ibunya (putri Firaun tidak tahu kalo ibu itu adalah ibu asli Musa). Kisah ini bisa dibaca di Keluaran 2:1-10, pasti bukan lagi kisah yang asing. Yang menarik, pada ayat 10, dikatakan disana “Setelah anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun.” Aku tidak menemukan dengan pasti, sebesar apakah Musa saat diberikan kepada puteri Firaun, kalau ingin coba menerka-nerka mungkin saja itu setelah Musa tidak memerlukan ASI lagi, alasannya melihat dari perkataan puteri Firaun kepada ibu Musa untuk menyusui anak itu, tapi itu tidak penting. Yang lebih menjadi sorotanku adalah kalimat sesudahnya “dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya,” Musa diangkat anak oleh Firaun, bayangkan seorang anak budak dari Israel, diangkat menjadi anak puteri Firaun, yang berarti dia sudah masuk dalam bagian keluarga besar Firaun, bahkan namanya pun berbau-bau Mesir = Moses (bandingkan dengan Ramses, dsb). Luar biasa bukan? Kalo jaman sekarang, mungkin bisa digambarkan seorang anak yang kurang mampu dan diangkat anak oleh Sultan Brunei Darussalam yang kaya raya itu.

Di kitab Keluaran tidak digambarkan secara jelas apakah yang dilakukannya selama masa pertumbuhan Musa di lingkungan kerajaan Mesir, yang diceritakan langsung pada pasal 2 ayat 11 adalah keadaan dimana Musa sudah berumur ± 40 tahun saat itu. Kita buka Kisah Para Rasul 7 : 20-22. Ayat ini menggambarkan kejadian yang terjadi pada diri Musa di Mesir, pada ayat 21 menjelaskan mengenai bagian dari kitab Ulangan yang mengatakan bahwa Musa diangkat anak oleh putri Firaun. Dia diangkat anak, bukan cuma sekadar diangkat begitu saja, tetapi benar-benar diperlakukan / diasuh seperti anaknya sendiri. Josephus, seorang sejarawan mencatat, bahwa karena Firaun tidak mempunyai putra dan ahli waris, Musa diasuh untuk sebuah takhta kerajaan. Iya, Musa diasuh untuk sebuah takhta kerajaan, lihat di ayat 22, seorang Israel, seorang dari golongan budak, dididik dalam segala hikmat orang Mesir. Musa tentu saja anak yang pintar, sebab bila tidak, mungkin sudah lama ia ‘dikembalikan’ kepada kodrat bangsanya saat itu, menjadi budak di Mesir. Kepintaran Musa membawanya berharga di mata Firaun, Firaun mungkin melihat Musa adalah ‘the next’ penguasa selanjutnya di Mesir, menggantikan dirinya.

Lanjutan ayat 22 mengatakan, bahwa ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya, seorang sejarawan ekstrabiblikal berkata, bahwa Musa sudah memimpin bala tentara Mesir untuk memenangkan tentara Etiopia. Musa bukan hanya memiliki intelektual, tetapi ia memancarkan karisma, kemampuan untuk mempengaruhi rakyatnya. Berhala masa kini yang banyak dikejar-kejar oleh orang dunia : 3 Ta (Harta, Tahta, dan Wanita), Musa sudah punya!! Sebagai seorang anak Firaun, pastilah dia kaya, dia berkuasa, dan banyak wanita yang suka kepadanya. Musa benar-benar berada di dalam zona nyamannya. Bila saja Musa berada tetap di dalam zona nyamannya, pastilah cerita dari keluarnya orang Israel dari Mesir akan berbeda, mungkin saja saat ini kita akan menemukan piramida kuburan dari Firaun yang bernama Moses.

Ceritanya menjadi berbeda, ketika ia berani keluar dari zona nyamannya!! Kita buka Ibrani 11 : 24-26. Sudah gilakah dia? Meninggalkan segala kepuasan dunia yang sudah di depan mata itu, tinggal menunggu waktu, maka Mesir, negara yang besar dan kuat itu akan menjadi miliknya. Kita tahu cerita selanjutnya, ketika Musa memilih untuk memimpin bangsa Israel dibandingkan dengan segala kenyamanan di Mesir, Musa malah harus menderita 40 tahun mengembara di padang gurun bersama-sama dengan bangsa Israel yang tidak pernah dewasa, yang selalu bersungut-sungut dan tidak pernah puas itu. Bayangkan, kalo Musa lebih memilih tinggal di Mesir, daripada menjawab panggilan Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel, dia tidak perlu berlelah-lelah menghadap Firaun berkali-kali untuk meminta Firaun membebaskan bangsa Israel, dia tidak perlu berlelah-lelah jalan di padang gurun bersama-sama bangsa Israel, dia tidak perlu mendengarkan rengekan / sungut-sungut dari bangsa Israel. Kalo saja dia memilih tinggal di Mesir, mungkin saja dia hanya perlu duduk-duduk dengan tenang menikmati segala kemewahan. Akhirnya justru menjadi indah ketika dia dengan rela meninggalkan zona nyamannya untuk masuk ke dalam zona panggilan Tuhan, dia bergaul karib dengan Tuhan, dia mengalami bentukan Tuhan, dia dipakai sebagai alat Tuhan, dia dapat melayani Tuhan yang hidup.

Melayani bukan hanya hal-hal yang berbau rohani, seperti dalam hal kepengurusan di persekutuan / gereja, bukan hanya dalam hal pelayanan jadi usher, jadi kolektan, jadi sumber, jadi worship leader, jadi pemusik, jadi panitia kegiatan rohani, jadi pembicara, dsb. Terlalu sempit kalo kita bilang pelayanan hanya yang berbau-bau rohani, pelayanan juga dapat dilakukan dengan melakukan sesuatu hal-hal lain seperti belajar, bekerja, bergaul, dalam obrolan, asalkan setiap kegiatan yang kita lakukan tersebut dilakukan untuk memuliakan nama Tuhan itu dapat disebut sebagai suatu bentuk pelayanan kita kepada Tuhan.

Dari Ibrani 9 : 14, kita menemukan bahwa oleh karena karya penebusan Tuhan di atas kayu salib lah maka kita dapat beribadah kepada Tuhan. NIV menerjemahkannya “so that we may serve the living God”. Melalui karya penebusan Yesus, kita boleh kembali dilayakkan untuk melayani Tuhan. Apakah semua orang bisa melayani Tuhan? Tidak, tidak semua orang dapat melayani Tuhan, hanya mereka yang telah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi yang dapat disebut sebagai pelayan-pelayan Tuhan. Sehingga dapat dikatakan bahwa melayani Tuhan adalah sebuah anugrah, sama seperti kehidupan kekal yang juga adalah anugrah dari Tuhan.

Musa menyadari itu, bahwa saat dirinya dipanggil oleh Allah, untuk dipakai sebagai alat untuk melayani Tuhan, untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, dia pasti sadar kalau itu adalah sebuah anugerah. Iman dan cintanya kepada Tuhan, serta dorongan atas kesadaran bahwa dirinya dipanggil Tuhan bukan karena dia hebat atau karena dia pintar tapi karena anugerah Allah, itulah yang mendorong Musa untuk menjawab panggilan Tuhan dan dengan rela keluar dari zona nyamannya di Mesir.

Bagi kita saat ini sebagai anak2x Tuhan, sedikitnya ada 3 zona yang harus kita berani untuk masuk dan terlibat di dalamnya, yaitu gereja, masyarakat, dan bangsa.

Zona pertama adalah gereja, kecenderungan kita, kita mencari tempat beribadah / tempat bersekutu yang nyaman. Aku mau beribadah di gereja yang besar, kalo gereja yang kecil males ah, pasti banyak masalahnya. Aku mau beribadah di gereja yang di sana aku mendapatkan kepuasan, gak peduli aku kenal atau tidak dengan sebelah kiri / kanan ku, yang penting aku dikenyangkan oleh Firman Tuhan, yang penting aku bisa bernyanyi memuji Tuhan. Melayani di gereja? Enakan melayani di gereja besar, masalah dana bukan halangan, fasilitas semuanya ada, kalo di gereja kecil, yang ada cari dana, fasilitas gak lengkap, dengan alasan rohani kita bilang, gimana bisa mengembangkan karunia dengan fasilitas yang terbatas? Sikap seperti apa yang kita mau ambil, tinggal dalam zona nyaman kita dengan gak peduli dengan gereja kita, atau gak ambil peduli dengan gereja-gereja kecil yang sedang bertumbuh yang serba kurang dalam hal dana, dalam hal fasilitas, dan teman sepelayanan. Atau, engkau mau kembali membangun gereja mu, gak berpusat pada diri sendiri, tapi dengan rela meninggalkan zona nyaman kita, dan ambil pelayanan di gereja mu, mungkin tidak besar, tapi lebih membutuhkan tenaga dan peran dari setiap kita. Sebuah gereja ketika hilang pengaruhnya terhadap lingkungan dimana gereja itu berada, maka gereja itu sudah kehilangan esensinya sebagai sebuah gereja. Tuhan dengan jelas berkata bahwa kita harus menjadi garam dan terang, harus bisa jadi teladan, mengabarkan Injil Kristus agar banyak jiwa bisa datang kepada Tuhan dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Kalau gereja2x sudah kehilangan pengaruhnya terhadap lingkungannya dan hanya berkutat dengan masalah interen tanpa lagi peka terhadap kondisi lingkungan sekitarnya, pantaskah gereja itu disebut gereja? Saatnya kita anak2x Tuhan untuk kembali membawa gereja dalam perannya yang semula, untuk jangkau jiwa-jiwa di luar sana bagi kemuliaan Tuhan.

Zona kedua adalah masyarakat, gak usah kita berpikir terlalu jauh dengan proyek-proyek besar bagi sesama kita, gak usah kita mulai dari yang berat-berat seperti pergi ke daerah-daerah konflik, mulailah dengan melihat sekeliling kita. Seberapa kita peduli sama teman-teman kita yang belum kenal Kristus? Seberapa kita peduli sama teman-teman kita yang dari tampangnya terlihat sedang berbeban berat? Masihkah kita bergaul dengan memilih-milih? Kalau dia menguntungkan bagiku, maka dia adalah temanku, kalau dia merugikanku, maaf saja, cari aja teman lain. Malah kalau teman kita sedang suntuk, kita berusaha menghindar, takut waktunya abis dipake buat dengerin curhat, padahal masih banyak tugas yang numpuk. Buat temen-temen kita yang di luar Kristus, biarkan saja dia memilih jalannya sendiri, apa peduliku, kalau dia akhirnya terima Kristus apa untungnya bagiku? Kita lebih memilih tinggal dalam zona nyaman kita, tidak mau ambil pusing dengan teman-teman di sekitarku, asal aku tidak dirugikan cukuplah. Sikap seperti apa yang temen2x mau ambil, tinggal dalam zona nyaman kita dengan gak peduli ama teman-teman di sekitar kita, atau mulai menunjukkan jati diri mu sebagai orang Kristen sejati, tanpa mengharapkan imbalan atau pun pujian, membagikan kasih kepada teman-temanmu, kepada teman-teman yang menyebalkan sekalipun. Saat kita kelak memilih pekerjaan, pekerjaan apakah yang akan kita ambil? Yang penting pekerjaan dengan gaji besar, gak peduli lewat pekerjaan itu apa yang bisa diberikan bagi bangsa dan masyarakat banyak, gak peduli lewat pekerjaan itu malah mungkin bisa menyengsarakan orang banyak, yang penting aku gak rugi. Sikap seperti apa yang temen2x mau ambil?

Zona ketiga adalah bangsa, teman2x seberapa banyak dari kita saat ini yang peduli akan bangsa ini, yang dengan setia berdoa syafaat bagi bangsa ini? Taukah teman-teman tentang perkembangan konflik Indonesia – Australia saat ini? Taukah teman-teman berapa hutang bangsa kita saat ini? Taukah teman-teman berapa jumlah pengangguran, angka kemiskinan, tingkat kejahatan yang ada di bangsa kita saat ini? Sebagai anak-anak Tuhan, apakah kita hanya akan berpangku tangan dan gak ambil peduli dengan kondisi yang ada di bangsa kita? Kita lebih memilih tinggal dalam zona nyaman kita, kalau pun terjadi hal yang buruk terhadap bangsa ini, tinggal ke luar negeri, toh ada uang. Sikap seperti apa yang temen2x mau ambil, tinggal dalam zona nyaman kita dengan gak ambil pusing dengan kondisi bangsa yang carut-marut ini atau mulai memikirkan sumbangsih apa yang aku bisa berikan bagi bangsaku, mungkin kecil dan gak berarti, tapi ada yang aku mau berikan bagi bangsaku. Kalau saat ini kita sudah mulai dengan berdoa bagi bangsa ini, itu sudah bagus, tapi itu belum cukup. Bangsa ini perlu peran kita-kita semua sebagai anak-anak Tuhan, perlu ada anak-anak Tuhan yang berintegritas yang berani bayar harga untuk terjun ke bidang hukum, bidang politik, bidang kesehatan, bidang ekonomi, bidang sosial, bidang budaya, bidang keamanan, bidang media massa, pegawai negeri, dan masih banyak bidang-bidang lain dalam pemerintahan ini yang dapat kita masuki. Masuk ke dalamnya bukan untuk bergabung dengan para pembuat kejahatan dan penyelewengan, tapi berada di sana untuk membawa kontribusi yang maksimal, membawa pengaruh yang positif, menjadi teladan, terlebih membawa perubahan yang dapat menyejahterakan rakyat banyak dan tentu saja memuliakan Kristus Yesus. Peran apa yang akan kita ambil bagi bangsa ini? Bila kita sudah mulai berdoa syafaat bagi bangsa ini itu bagus, tapi siapkah kita menjadi jawaban doa itu untuk terjun dan membawa perubahan positif bagi bangsa ini?

Bila hidup kita saat-saat ini masih sibuk dengan urusan pribadi dan kenyamanan diri saja, kita tidak akan pernah bisa dipakai Tuhan secara luar biasa. Sebagai anak-anak Tuhan apa lagi yang lebih membanggakan, bila Tuhan mau pakai kita sebagai alat-alatNya untuk membawa perubahan-perubahan yang positif bagi lingkungan dimana kita tinggal dan berkarya. Saatnya untuk meninggalkan zona nyaman kita dan masuk ke dalam zona panggilan Allah. Saatnya berubah!!!

No Comments Yet

Comments are closed

X

Send this to a friend