Mengakhiri Pertandingan

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman

2 Timotius 4:7

Adakah persamaan antara perenang dengan pebulutangkis? Jelas beda. Perenang bertanding / berlomba di dalam air, sedangkan pebu­lu­tangkis bertanding di lapangan.

Bagaimana dengan pemain sepak bola dan pecatur? Juga berbeda. Pemain bola menyentuh dan menendang bola. Sedangkan pecatur tidak mungkin bertanding dengan me­nyentuh dan menendang.

Kalau pelari dan petinju? Juga berbeda. Pe­lari, begitu peluit dibunyikan, mereka akan berusaha berlari se­kencang-kencangnya untuk menjauhi lawan-lawannya. Sedangkan petinju, begitu bel berbunyi, mereka berusaha untuk saling merangsek dan saling memukul.

Ada hal lain yang begitu menentukan kemenangan mereka, yakni:

1. Melakukan pertandingan/perlombaan dengan sungguh-sungguh
Setiap atlet pasti melakukan per­tandingannya dengan sungguh-sungguh dan bersemangat. Tidak ada perenang, ketika ber­lomba sambil bege­jesan (bergurau). Juga tidak dijumpai pemain bola, ketika bertanding sambil bawa majalah, kalau-kalau tidak ada bola mereka santai sambil membaca majalah. Begitu pula tidak ada petinju ketika bertanding sambil mengenakan headphone agar dia dapat mendengarkan musik.

2. Yang menentukan adalah hasil akhir
Meskipun Persebaya pada babak 1 menang 12-0 tetapi kalau di babak kedua mereka kebobolan 20 gol, pastilah Persebaya kalah. Atau misalnya Tyson unggul angka dari ronde 1 sam­pai ronde 14. Tetapi kalau dia pada ronde 15 dipukul KO oleh Holyfield, maka 14 ronde itu tidak a­da artinya.

Dua hal ini selaras dengan apa yang ada di dalam Kisah Para Rasul 20:24. Bersungguh-sungguh dan Mencapai garis akhir.

Hidup kita ini ibarat sedang dalam pertan­dingan. Paulus dalam 1 Korintus 9:24-27 menyampaikan:

(a­yat 25) Menguasai dirinya dalam segala hal
Menguasai diri di dalam bahasa Yunani dituliskan dengan kata egkrateumai. Yang berarti menge­kang diri, memusatkan diri, menghindari diri. Setiap orang yang bertanding akan berusaha menguasai dirinya. Ar­tinya tidak berleha-leha, lengah, terlena, enak-enakan, atau dalam keadaan tidak waspada.

(ayat 26) Tidak sembarangan
Harus ada tujuan. Fokus. Tujuan. Bagaimana jadinya kalau seseorang hidup dengan tanpa tujuan. Bukan untuk kepentingan dan keperluan sesaat saja. Tujuan dan focus orang percaya adalah keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tetapi ada banyak orang Kristen justru mengesampingkan tujuan ini, lalu kemudian berfokus pada sesuatu yang lain yang sebenarnya adalah sesuatu yang sia-sia dan fana.

(ayat 27) Melatih tubuh dan menguasai
Layaknya seorang atlet yang melatih tubuhnya agar terampil dan siap bertanding, maka orang percaya harus melatih hidupnya dengan melakukan kebenaran Firman Tuhan. Melakukan Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Serta menjaga kehidupannya dengan takut dan gentar (Filipi 2:12).

Ingat! Kunci keberhasilan seorang atlet diten­tukan dengan dua hal: melakukan dengan kesungguhan dan hasil akhir.

Betapa bangga dan berbahagianya seorang atlet yang maju ke podium (beema) untuk menerima tan­da kemenangan. Demikian pun kita. Apabila kita menang dan mencapai garis akhir, maka mahkota kebenaran pun akan dianugerahkan bagi kita (2 Timotius 4:8).

No Comments Yet

Comments are closed

X