Penumpang Malam

Menjelang tengah malam, hujan masih turun dengan derasnya. Miki mengendarai mobilnya dengan lebih perlahan dari biasanya. Bukan hanya disebabkan jalanan licin, tetapi juga untuk jarak pandang ke depan cukup terbatas. Seperti biasa karena pekerjaan yang menumpuk maka, Miki terpaksa pulang lebih lambat. Jalan bebas hambatan yang Miki lalui semakin sepi saja. Sayup-sayup terdengar lagu-lagu rohani terdengar dari sebuah stasiun radio Kristen.

Pandangan Miki hanya tertuju ke arah depan jalanan sambil sesekali melihat rintik-rintik hujan yang menghinggap di kaca depan mobil. Perasaan tubuhnya capai banget, sehingga seakan isi kepala terasa kosong. Sesekali Miki menguap sambil meraba wajahnya untuk merasakan udara dingin.

Tiba-tiba pandangannya tertuju pada suatu sosok di tepi jalan tol yang kosong. Miki tak tahu apakah itu. Secara refleks ekor matanya menangkap suatu bentuk. Dia mengfokuskan pandangannya ternyata seorang manusia yang basah kuyup berjalan di pinggir jalan. Orang tersebut membalikkan tubuhnya melihat cahaya mobil Miki yang searah dengannya. Ternyata seorang gadis. Miki hanya terbengong melihatnya. Tidak menyangka, dalam waktu semalam ini seorang gadis berjalan sendirian kehujanan.

Mobil Miki yang melaju cepat, berlawanan dengan otaknya yang capek. Sehingga Miki tak sempat melambatkan mobilnya. Rupanya gadis itu membutuhkan tumpangan. Miki hanya dapat melihat dari kaca spionnya, beberapa mobil berjalan berada dibelakang mobilnya. Ternyata mereka juga tidak berhenti menolong si gadis. Hmm … siapa yang sudi menolong orang lain, waktunya sudah larut malam, hujan lagi. Belum lagi resiko kalau orang yang meminta tumpangan itu orang baik-baik, jika orang jahat bagaimana? Tetapi timbul rasa kasihan dalam hati Miki. Bagaimana jika tidak ada seorangpun yang mau memberhentikan mobilnya untuk menolong si gadis? Apakah gadis itu akan tetap berjalan sepanjang jalan tol dengan basah kuyup?

Tanpa berpikir panjang lagi Miki keluar dari jalan tol bermaksud berputar. Pikirannya yang masih bertanya-tanya tanpa jawaban itu sudah didahului oleh tindakannya untuk mengarahkan mobilnya kembali sampai dimana tempat si gadis berada. Dalam hati Miki berharap sudah ada seseorang lain yang mempunyai rasa belas kasihan untuk menolong gadis tersebut.

Ternyata harapan Miki tidak terkabul. Hujan tampaknya takkan berhenti dalam waktu dekat ini. Terdengar sayup lagu rohani yang masih mengiringi perjalanan malam Miki untuk memutar kembali. Dari kejauhan Miki melihat sosok gadis yang masih berjalan dibawah guyuran air hujan. Miki menghentikan mobilnya beberapa meter dari si gadis yang sedang berjalan. Sambil membuka pintu kaca mobilnya, Miki menunggu gadis tersebut sampai ke mobilnya.

“Anda butuh pertolongan?” tanya Miki. Sang gadis memandang selidik ke arahnya. Mungkin dia hendak menganalisa apakah Miki itu seorang pemuda baik-baik.
“Anda hendak kemana?” tanya Miki kembali.
“Boleh saya mendapatkan tumpangan?” balas si gadis tanpa menjawab pertanyaan Miki.
“Anda hendak kemana?” ulang Miki.
“Saya hendak ke perhentian bis yang terdekat.” jawab si gadis. Dalam hati Miki merasa heran mendengar jawab si gadis. Jam segini rasanya tidak ada bis kota yang berkeliaran.
Tetapi karena Miki melihat bahwa si gadis rasanya memang butuh pertolongan.
“Silahkan masuk.”

Sepintas Miki melihat bahwa pakaian si gadis yang basah tersebut akan membasahi permukaan tempat duduk mobil yang disampingnya. Entah bagaimana dia akan mengeringkannya. Beberapa menit kemudian suasana hening telah meliputi mereka. Mobil kembali berjalan. Suara artis Kristen melalui radio mengiringi mereka yang sibuk masing-masing dengan pikirannya. Miki menjadi merasa kikuk. Tetapi paling tidak kehadiran si gadis mengusir rasa kantuknya. Pikirannya melayang-layang. Dia belum pernah memberi tumpangan kepada seseorang di tengah jalan.

Tiba-tiba timbul pikiran jeleknya, tak sedikit cerita yang pernah didengarnya bahwa seorang pengendara mobil memberi tumpangan di tengah jalan, lalu si penumpang masuk dan duduk di dalam mobil, menodong si pengendara dengan pisau atau pistol. Tanpa sadar Miki melirik ke arah si gadis disebelahnya. Dia hanya mematung dan memandang ke depan. Miki berdoa dalam hati, supaya Tuhan menolong maksud baiknya ini tidak berakibat buruk.

As little children, We would dream of Christmas morn
Of all the gifts and toys, We knew we’d find But we never realized,
A baby born one blessed night Gave us the greatest gift of our lives.

Sayup-sayup terdengar suara David Meece yang mengalunkan lagu We Are the Reason.

We were the reason, That He gave His life
We were the reason, That He suffered and died
To a world that was lost, He gave all He could give
To show us the reason to live

Miki menikmati kata demi kata dari lagu tersebut dan instrumen yang mengiringinya. Miki selalu merasa diingatkan ketika mendengar lalu ini, bahwa betapa besar anugerah Allah terhadap hidup manusia. Karena kita, Kristus rela menderita memberikan nyawanya untuk menebus dosa kita.

Miki merasa heran apa telinganya tidak dengar. Kok rasanya terdengar suara tangisan. Dia menoleh kearah penumpang sebelahnya. Gadis itu menundukkan kepalanya dan menangis sengungukkan. Miki tak habis pikir apa yang menyebabkan gadis itu menangis. Tapi dia tak tahu harus berbuat apa. Maka Miki hanya diam saja menunggu gadis tersebut sampai menyelesaikan tangisnya.

“Aku selalu ingat, ketika aku masih kecil Mama selalu menyanyikan lagu ini dan aku tiduran di pangkuannya. Mama selalu bercerita tentang hidupnya yang selalu bergantung kepada Tuhan.” Miki tercengang ketika mendengar cerita yang keluar dari mulut si gadis.

“Tetapi ketika aku mulai remaja aku selalu memberontak untuk melawan nasehat Mama. Aku tak peduli ketika Mama sampai menangis karena aku bertengkar dengannya. Aku sekarang hanya ingin bertemu dengannya.” cerita si gadis disela tangisnya.

Miki mengambil tisiu kering dari balik tempat duduknya dan memberikan kepada Jenny, nama gadis itu. Miki sedikit mengecilkan volume radionya. Jenny pun bercerita bahwa dia sebenarnya melarikan diri dari rumah Mamanya. Dia minggat bersama Tom, pacarnya. Selama seminggu mereka berkelana ke kota-kota atau desa di propinsi lain. Sampai uang mereka berdua habis. Maka kelihatanlah bagaimana watak asli Tom. Mereka sering bertengkar dan Tom sering menyalahkan Jenny sebagai penyebab mereka lari dari rumah mereka. Sampai pada puncaknya Tom berkelahi dengan Jenny dan memukulnya. Jenny pun melarikan diri dari Tom. Tak ada tempat berteduh. Jenny hanya mendapat makan dari belas kasihan orang yang memberinya. Uang yang dicuri dari kamar tidur Mamanya telah habis ludes.

Dalam duapuluh empat jam, Jenny merasakan betapa tidak enaknya menjadi orang yang tak mempunyai tujuan dan tak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Dihitungnya uang recehannya hasil dari meminta-mintanya, tetapi itupun masih tak cukup untuk membeli makanan. Dengan perut kosong, dia menerima pandangan tak peduli dari berbagai orang yang berjalan melewatinya. Dia haus, lapar, bingung dan tak tahu apa yang harus diperbuat.

Jenny mulai menyesali tindakannya. Mamanya selalu menasehati untuk tidak berteman dengan Tom yang bukan Kristen itu. Tetapi sebagai remaja, Jenny merasa Mamanya tidak berhak melarang dia berteman dengan siapa saja. Semakin dia dilarang, Jenny semakin keras kepala. Jenny merasa bosan hanya mendengar nasehat Mamanya. Maka dia pun makin dekat dengan Tom, sampai mereka berdua berencana untuk berkelana ke kota lain yang belum pernah mereka kunjungi.

Kini dia tak mempunyai tujuan. Kecuali dia kembali ke rumah Mamanya. Dia berharap Mamanya masih mau menerima dia. Tetapi bagaimana dia dapat kembali ke rumahnya, jika dia tak mempunyai uang seperserpun. Takut, cemas dan berbagai perasaan bergejolak dalam hati Jenny. Dia hanya melangkahkan kakinya berjalan, dengan satu tujuan kembali pulang ke rumah Mamanya.

Miki menawarkan untuk mampir ke kedai kopi, karena dia menduga mungkin Jenny belum makan malam. Tetapi ditolak secara halus oleh Jenny. Dia ingin lebih cepat pulang ke rumah untuk dapat bertemu dengan Mamanya.

“Oke kalau begitu aku akan mengantarkanmu ke rumah Mama kamu deh.”
“Jangan, Michael. Nanti akan merepotkanmu.” tolak Jenny.
“Ini sudah larut malam, Non, dan tak ada bis kota yang bakal lewat. Kamu harus menunggu sampai pagi hari.” bantah Miki.
“Kamu seperti Mamaku aja.” sahut Jenny.
“Itu juga demi kebaikanmu.”

Miki membayangkan bahwa nanti pertemuan Jenny dengan mamanya akan mengharukan mungkin seperti ilustrasi Tuhan Yesus tentang anak yang hilang yang berjalan kembali ke rumah bapaknya. Puji Tuhan, Miki sersyukur bahwa Jenny dapat menyadari bahwa jalan kembali ke rumah mamanya adalah satu-satunya jalan yang akan menyelamatkan dia dari mara bahaya. Tidak sedikit Jenny-Jenny yang lain yang berpikir bahwa kembali ke rumah bukan jawaban yang tepat. Tetapi mereka semakin terjerumus masuk kedalam jahatnya dunia ini. Masuk dalam jerat dunia narkoba. Masuk dalam penjualan seks. Menjadikan Jenny yang lain hilang dan tak pernah kembali.

Miki tak menduga dari tindakannya menolong seorang gadis di tengah jalan, yang tak pernah Miki pikirkan, paling tidak dia dapat mengantarkan Jenny selamat sampai di rumahnya. Miki berharap Jenny belajar dari pengalamannya tersebut, meminta ampun dan lebih mengasihi Mamanya. Tiada tempat lain yang lebih aman daripada tempat didalam keluarga atau rumah sendiri. Meski Miki juga tahu banyak keluarga atau rumah yang tidak aman bagi anggota keluarganya. Tetapi sebagai keluarga Kristen dengan Kristus sebagai pusat hidupnya, keluarga dan rumahlah yang menjadi ayoman anggota keluarganya.

Vancouver, 27 April 2005

No Comments Yet

Comments are closed

X