Untuk Lawan

Daniel 6:11 Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya
Saat mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa di Samarinda-Kalimantan Timur – beberapa tahun lalu – salah seorang peserta tuan rumah mengajak saya untuk singgah. Dia tinggal di rumah panggung yang dibangun di atas sungai. Kebanyakan dari mereka juga demikian.
Saat senja menjelang, mentari yang mulai menyusup turun ke batas cakrawala terlihat cantik dan mempesona. Berbarengan dengan itu, hadirlah kawanan nyamuk yang bersiap untuk santap malam. Ketika saya mulai menepuk dan menepis kawanan “penghisap darah”, teman saya menyodorkan minyak. Saya pikir minyak tawon atau balsam atau sebangsanya. Ternyata minyak ini campuran minyak ikan dan minyak babi untuk pengusir kawanan nyamuk. Ketika saya cium, waow aromanya sungguh tidak enak. Amis dan anyir.
Saya harus memilih. Menyediakan diri dihisap sepuasnya oleh kawanan “penghisap darah” atau bergumul dengan aroma yang kurang sedap?
Daniel dan kawan-kawan sedikit pun tidak berkeinginan berada di Babel. Mereka berada di situ atas inisiatif eksternal, yakni penguasa saat itu. Kondisi politik mendorong setiap orang agar taat terhadap penguasa. Hukum positif yang berlaku, mewajibkan setiap orang yang berada dalam negara harus mengikuti dan tunduk. Tidak hanya secara fisik, pikiran dan mental juga menjadi target agar bisa dikuasai. Maka penguasa menerapkan hukum ke dalam tata cara ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa penguasa saat itu berusaha mengambil alih total kehidupan Daniel dkk dan bangsa Israel yang ditawan.
Keadaan ini membawa Daniel pada dua pilihan. Mengikuti Allahnya atau mengubah keyakinan dan imannya?
E. Stanley Jones, seorang penginjil kesohor berkata demikian: “Apa yang menarik perhatian Anda akan menarik Anda”.
Tetapi tidak demikian dengan Daniel. Daniel sama sekali tidak tertarik dengan apa yang ada di hadapannya. Meskipun saat itu, dia menikmati fasilitas Negara. Mess, makanan, lingkungan dan lain-lain. Perhatiannya hanya kepada Allahnya. Ketika mata Daniel tertarik pada keintimannya dengan Allahnya, maka hal itu membawa Daniel ke sana. Daniel berhasil mengubah paradigma penguasa (Daniel 2:47). Tidak hanya Daniel, sang penguasanya pun menelorkan regulasi baru (Daniel 6:26-28).

No Comments Yet

Comments are closed

X