Topics
Deeper Journey, Faith
Reading Time
2 minutes
Share this article

Be Positive

reading time: 2 minutes
Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang […]

Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikkan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Filipi 4:8

Seorang janda miskin Siu Lan, punya anak berumur 7 tahun, bernama Lie Mei. Kemiskisnan membuat Lie Mei harus membantu ibunya, berjualan kue di pasar. Karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja dengan ibunya.

Pada suatu musim dingin, saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak. Dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk menunggu dirumah, karena ia akan membeli keranjang baru. Saat pulang Siu Lan tidak menemukan Lie Mei dirumah, Siu Lan langsung marah, pikirnya, putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah tapi masih juga pergi main-main, pada hal tadi sudah dipesan agar menunggu dirumah. Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kuenya. Dan sebagai hukuman, pintu rumahnya dikunci dari luar, agar Lie Mei tidak dapat masuk kedalam rumah, dengan pikiran putrinya harus diberi pelajaran, pikirnya geram.

Sepulang dari jualan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei gadis kecil itu tergeletak didepan pintu rumahnya. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei dengan tubuh yang sudah membeku dan sudah tidak bernyawa lagi, jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis, meraung-raung tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan menggendong Lie Mei dan membawa masuk kedalam rumah. Siu Lan mengguncang-guncang tubuh beku putri kecilnya. Sambil meneriakkan nama Lie Mei berulang-ulang, tiba-tiba sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei, Siu Lan mengambil bingkisan kecil itu dan membuka isinya, isinya sebuah bingkisan kecil yang dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Lie Mei yang berantakan tapi masih bisa dibaca: Mama pasti lupa ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uang ku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar, mama selamat hari ulang tahun ya... aku mengasihi dan mencintai mama.

Sering kali, kita menerapkan kedisplinan tanpa kita melihat situasi yang terjadi dan meminta hikmat dari Tuhan, apakah yang aku terapkan untuk anakku itu sudah benar atau tidak. Biarlah kita menjadi orang tua yang menyerahkan anak kita pada Tuhan Yesus Kristus, sehingga kita percaya bahwa Tuhan agar menjaga langkah hidup anak kita, bukan dengan peraturan yang akhirnya malah mencelakakan anak kita sendiri.

Topics
Deeper Journey, Faith
Setelah bangsa Israel keluar dan Mesir, dan setelah mereka berhasil melewati Laut Teberau, maka […]
Faith, Life, What Matters
How to Improve Your Life
Personality: Don't compare your life to others'. You have no idea what their journey […]
Deeper Journey, Faith
Empat Pohon Mangga
Didepan rumah, kami mempunyai empat pohon mangga, dimana waktu itu kami menanam secara bersama-sama. […]