Setangkai Bunga Yang Lalu

(penulis: Ayub Mbuilima)

Pendeta tua datang ke rumah sakit untuk mengunjungi seorang jemaat yang sedang sakit kanker. Jemaatnya ini masih berumur sekitar 28 tahun. Dalam kunjungannya Pendeta tua ini membawa setangkai bunga yang sudah layu dan memasukan bunga teesebut kedalam gelas yang berada tepat diatas meja yang tidak jauh dari tempat tidur dimana pemuda yang sakit ini berbaring.

Setelah bercakap-cakap sebentar, pendeta ini bertanya kepada pemuda yang sedang terbaring karena sakit kanker ini. Apa yang perlu saya doakan selain kesembuhan. Pemuda ini berkata bahwa jika Tuhan menyembuhkannya ia mau menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan. Pendeta tua tersebut berdoa setelah itu ia beranjak keluar dari ruangan pemuda tersebut. Selang beberapa hari pendeta tua itu kembali menjenguk pemuda ini lagi dan membawa setangkai bunga yang lalu dan kembali meletakan di dalam gelas yang berisi air. Ia bercakap-cakap di sebelum berdoa pemuda ini kembali berkata bahwa jika Tuhan menyembuhkan dia maka ia akan setia melayani Tuhan.

Pendeta tersebut berdoa dan setelah berdoa ia berpamitan untuk kembali ke rumahnya. Ketika pendeta tua tersebut melangkah kakinya beberapa langkah hendak mendekati pintu keluar kamar tersebut. Pemuda ini berseru kepada pendeta tua tersebut. Pak pendeta sebelum bapak keluar dari ruangan saya bolehkah saya bertanya sesuatu? Pendeta tua tersebut membalikkan badannya dan menatap pemuda itu dan berkata silahkan...apa yang hendak kamu tanyakan padaku? Bolehkah saya tahu mengapa setiap kali bapak pendeta berkunjung ke sini selalu membawa setangkai bunga yang layu untuk ku? Tanya pemuda ini dengan rasa ingin tahu yang dalam, sambil menatap dengan tajam raut muka dari pendeta tua dengan harapan ingin cepat mendapatkan jawaban dari pendeta tua.

Pendeta tua itu melangkah kembali menuju tempat tidur pemuda tersebut dan dengan suara yang tegas berkata bahwa masih ingatkah kamu ketika masih remaja, aku pernah meminta engkau menjadi pembimbing kelompok remaja di gereja namun engkau menolaknya dengan alasan engkau sangat sibuk dengan les dan juga pekerjaan rumah. Setelah engkau pemuda bukankah aku pernah memintamu menjadi ketua pemuda gereja namun engkau menolak dengan alasan engkau sibuk dengan pekerjaan. Bahkan setelah itu aku pernah memintamu menjadi ketua panitia natal gereja namun engkaupun tetap menolak padahal pengurus gereja merindukanmu menjadi ketua panitia natal waktu itu karena engkau dinilai mampu mengayoni karena kharisma dan kedewasaan rohanimu. Namun engkau tetap dengan tegas menolak. Mengapa baru sekarang engkau berjanji mau menyerahkan hidupmu untuk melayani Tuhan ketika engkau sudah terbaring lesu dan tak berdaya. Janganlah memberikan setangkai bunga yang layu untuk Tuhan, melainkan berikanlah setangkai bunga yang segar yang masih mekar ketika Ia memintanya.

Ketika mendengar kalimat demi kalimat dari pendeta tua itu, pemuda ini tidak sadar bahwa air matanya menetes membasahi pipinya dan ia memohon pengampunan dari Tuhan. Selang tiga hari dari peristiwa penjelasan arti setangkai bunga yang layu itu, Ternyata pemuda itu untuk selamanya tidak mempunyai kesempatan melayani Tuhan sebab ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Kisah ini mengingatkan kita untuk memakai setiap kesempatan hidup untuk melayani Tuhan, Janganlah menunda karena kita tidak tahun hari esok. Amin

Tags:
Share this article
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram